Tampilkan postingan dengan label INSPIRASI ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INSPIRASI ISLAM. Tampilkan semua postingan
Senin, 03 September 2012
SETIAP insan di dunia ini termasuk diri kita pasti memiliki kekurangan dan kelebihan, sebagai insan yang tak pernah luput dari kesalahan dan kealfaan tentunya kita harus sering sering bercermin ke dalam diri kita sendiri mengoreksi segala kekurangan yang ada di dalam diri kita, begitu banyak aib aib yang ada pada diri kita yang bisa jadi tidak kita sadari. Sungguh jika Allah SWT menampakkan aib aib kita ke permukaan, tentu kita tak akan mampu untuk mengangkat wajah kita, karena wajah kita akan terus tersungkur bersujud memohon ampun kepada Allah. Namun selama ini Allah lah yang memiliki kuasa untuk menutupi setiap aib aib diri kita. Sering kali kita lebih banyak menilai atau mengoreksi bahkan mengumbar aib saudara kita sendiri yang belum tentu aib tersebut melekat pada orang kita nilai. Orang yang lebih suka membuka aib saudaranya sendiri seperti tulang yang menusuk ke dalam daging. Semakin sering kita mengumbar atau membuka aib orang lain, maka semakin keruh dan buta hati kita. Naudzubillah. Padahal jika kita mau melihat dan menelusuri ke dalam diri kita sendiri bisa jadi aib aib kita jauh lebih banyak di bandingkan dengan orang yang kita nilai lebih buruk aibnya. Jangan sampai kita buta akan aib sendiri yang begitu banyak namun tidak kita sadari karena kita lebih sibuk untuk mengoreksi aib orang lain. Pribadi yang sibuk mengoreksi ataupun mengumbar aib orang lain itu sesungguhnya hatinya telah kering akan kebaikan, tandus dan panas oleh kebusukan.
Maka mulai saat ini lebih baik kita mengoreksi terlebih dahulu diri kita atas segala kekurangan dan kealfaan diri kita sebelum mengoreksi orang lain. Karena bisa jadi orang yang kita koreksi aib aibnya itu lebih mulia derajatnya di sisi Allah. Sungguh bahaya tentang mengumbar aib orang lain sama dengan ghibah, simaklah firman Allah SWT ini :
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.”Al-Hujaraat ayat 12 :
Perbuatan ghibah atau mengumbar aib orang lain termasuk dosa besar, tak akan ada manfaatnya sedikitpun untuk diri kita. Kita sebagai seorang muslim sudah seharusnya menjaga aib saudara kita sendiri, bukan sebaliknya malah mengumbarnya. Bukanlah hak atau wewenang kita untuk membuka aib saudara kita, karena Allah lah yang lebih berkuasa untuk membuka ataupun menutupi aib aib kita ataupun saudara kita. Sungguh sekecil apapun perbuatan buruk yang kita lakukan kepada saudara kita maka malaikat akan tetap setia mencatatnya dan Allah yang menyaksikannya tanpa terlewat sedetikpun. Jaga hati dan diri kita dari segala perbuatan yang dapat membuka aib saudara kita, karena Sungguh Hati itu bagaikan cermin, jika cermin yang di gunakan sudah kotor ataupun kusam maka apapun yang di pantulkan tidaklah sesuai dengan kondisi yang sebenarnya, tetapi jika cermin itu bersih mengkilat maka akan terlihat jelas pantulan yang ada di cermin.
Cermin yang kotor dan kusam tak akan membantu kita untuk melihat jelas pantulan yang ada di cermin, baik itu wajah kita maupun tubuh kita ketika kita bercermin.Sebaliknya jika cermin itu bersih dari segala kotoran maka akan sangat membantu kita untuk melihat wajah ataupun bagian tubuh kita dengan jelas. Segela kekurangan yang ada pada diri kita ketika kita bercermin dengan cermin yang bersih maka akan sangat membantu kita untuk mengoreksi segala kekurangan tersebut dan merapihkannya dengan sebaik baiknya. Begitu juga dengan hati, Segala prasangka dalam hati itu begitu halus saking halusnya ketika hati tidak sehat maka hati akan begitu bimbang untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk.
Kita simak Sabda Rasulullah SAW yang begitu indah ini :
Hati itu ada empat, yaitu hati yang bersih, di dalamnya ada pelita yang bersinar. Maka, itulah hati orang mukmin. Hati yang hitam lagi terbalik, maka itu adalah hati orang kafir. Hati yang tertutup yang terikat tutupnya, maka itu adalah hati orang munafik, serta hati yang dilapis yang di dalamnya ada iman dan nifak.” (HR. Ahmad dan Thabrani).
Mulai detik ini mari kita bersihkan cermin yang ada di dalam hati kita, kita liat dan terus telusuri kesalah kesalahan yang ada di dalam diri kita untuk kita perbaiki, lembutkan hati kita dengan memperbanyak taubat dan dzikir mengingat Allah, karena sungguh hati yang terjaga akan lebih tenang dan damai ketika menilai orang lain. Tak akan ada terbelesit prasangka buruk yang menyelimuti hati,
Dalam sebuah statusnya Pak Mario Teguh, ada kalimat yang begitu berkesan tentang hati,
Ada satu taman, yang jika ia indah,
keseluruhan hidup kita akan indah.
Taman itu adalah hati.
Taman hati yang indah itu
berisikan bunga yang namanya syukur,
yang dipupuk dengan tanggung-jawab,
yang disirami dengan pengakuan
bahwa semua hasil adalah pemberian Tuhan,
yang disiangi dengan kejujuran,
dan yang dipagari dan digerbangi
dengan keikhlasan menerima apa pun
sebagai keadaan yang terbaik
yang masih bisa diperbaiki.
Maka,Janganlah menanami hati
dengan ilalang kemarahan.
Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW :
Alaa inna fil jasadi mudghah, idzaa shaluhat shaluha jasadu kulluhu waidzaa fasadat fasada jasadu kulluhu, alaa wahiyal qalbu”.( ingatlah sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya dana apabila ia buruk maka buruklah seluruh tubuhnya.ingatlah ia adalah hati ). diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
“Lebih baik kita meluruskan niat dan mengoreksi ibadah kita sendiri. Ambil cermin dan lihatlah kesalahan dan kelemahan kita. Sudah banyak Allah menutupi kesalahan-kesalahan kita, tidak terhitung betapa kasih dan rahmat Allah kepada kita sehingga keburukan-keburukan kita dilindungi-Nya,” tandasnya.
sumber : islam pos
Minggu, 26 Agustus 2012
TOYYIB adalah seorang mahasiswa di sebuah Institut di Jakarta Selatan. Hari itu ia akan menghadapi ujian di kampusnya. Materi yang akan ia hadapi adalah materi yang tiada ia suka. Susah sekali dicerna oleh otaknya. Bahkan semalam pun ia belajar sampai larut.
Kesempatan bangun di penghujung malam itu sengaja ia gunakan terlebih dahulu untuk menghadap Allah SWT dalam tahajjud sebelum berkutat dengan diktat yang menjemukan. Alhamdulillah, Toyyib pun mendapatkan ketenangan usai tahajjud.
Namun sayangnya, pelajaran itu masih tetap sulit ia rasakan untuk dicerna. Bahkan hingga waktu Shubuh menjelang pun hanya sedikit yang mampu ia pahami dari pelajaran tersebut.
“Ya Allah…, tolong aku! “ batin Toyyib.
Shalat Shubuh ia lakukan berjamaah di masjid Adz Dzikri di lingkungan rumahnya. Toyyib bertekad usai shalat Shubuh dia tidak akan tidur lagi. Masih ada beberapa jam ke depan untuk bisa ia gunakan belajar mempersiapkan materi ujian.
Setengah jam ia tatap lembar demi lembar buku diktat, namun tetap saja kebekuan otak belum juga mencair. Tiba-tiba ia, teringat biasanya pukul 5 pagi ada kajian ceramah di berbagai channel radio.
Ia pun menyalakan radio untuk mencari siaran ceramah. Rupanya Allah SWT menuntun tangan Toyyib untuk mencari gelombang yang benar. Di sana terdengar suara seorang ustadz yang sedang menjabarkan ilmu agama. Ustadz tersebut tengah menjelaskan perbedaan antara ikhlas dan ridha.
“Yang namanya ikhlas itu di depan…. Kalau sudah kejadian itu bukan ikhlas namanya, tapi ridha! Seperti dalam shalat kita gunakan kalimat Lillahi Ta’ala, nah… yang ini ikhlas. Tapi kalau sudah dagang, terus hasilnya rugi atau untung maka itu namanya adalah ridha,” suara sang ustadz di radio.
Hingga pukul 7, Toyyib masih terus berkutat dengan diktat yang belum juga dapat ia taklukkan. Ia pun bergegas sarapan, mandi dan terus berangkat ke kampus untuk ujian. Pukul 8 lebih sedikit ia sudah pergi meninggalkan rumahnya dengan berkendara motor.
Teringat akan ceramah yang ia dengar di radio tadi pagi, hatinya tergerak untuk bersedekah kepada seseorang yang membutuhkan.
Dari kejauhan Toyyib memandang petugas kebersihan yang tengah menyapu jalan. Toyyib berniat bersedekah kepada penyapu jalan itu.
“Assalamu’alaikum….!” terdengar suara Toyyib menyapa seorang petugas kebersihan jalan. Toyyib turun dari motornya, ia buka dompet mengambil selembar uang dan menghampiri petugas kebersihan itu. Sekali lagi ia mengucapkan salam dari jarak yang dekat, maka petugas kebersihan itu pun mengangkatkan wajahnya lalu membalas salam.
Toyyib pun memberikan selembar uang yang kini sudah terlipat kecil ke tangan petugas kebersihan. “Apaan ini, mas?” tanya petugas kebersihan keheranan. “Pokoknya buat bapak saja, mohon doakan saya ya pak!” Balas Toyyib
Toyyib pun melanjutkan perjalanannya menuju kampus.
“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (QS Al-Lail: 5-7).
Subhanallah... kedamaian hati usai berbagi kepada sesama memberi nuansa indah tersendiri di hati Toyyib. Ia rasakan hari itu menjadi penuh berkah, dan segala penat kejenuhan yang ia alami seolah tersingkirkan. Padahal, ia masih belum siap menghadapi materi ujian hari itu.
Setengah jam sebelum ujian, di luar dugaan ada seorang kawan yang membawa kertas soal ujian dari universitas lain, namun fakultas, jurusan dan dosennya sama. Kertas ujian dari universitas tetangga pun dibahas oleh Toyyib dan beberapa temannya. Semua soal yang tertera mereka cari jawabannya. Tapi, apakah bisa kertas soal universitas tetangga itu diandalkan? Hanya kepada Allah SWT Toyyib berserah.
Waktu ujian dimulai. Setiap mahasiswa sudah duduk di bangku mereka. Suasana hening tercipta di dalam ruang.
Rasa khawatir itu masih tetap ada di hati Toyyib, hingga ia menerima lembar soal ujian dari pengawas, maka seulas senyum lebar pun terbit di wajahnya. Ia heran.... kagum.... terpesona! Seolah tak percaya membaca lembaran soal, Toyyib pun membalikkan badan ke arah teman-teman yang tadi berdiskusi sebelum masuk ruang ujian. Semua kawannya mengacungkan jempol tanda kemenangan!
Toyyib tersenyum mendapati bahwa lembaran soal yang ia terima persis sama dengan yang ia pelajari bersama-sama rekannya dari universitas sebelah. “Kok bisa sama ya...?” gumam Toyyib.
Tanpa pikir panjang ia menyelesaikan semua soal. Tidak perlu dahi berkernyit dan memeras otak, semua soal ia lahap dengan hapalan yang masih ‘fresh’ di kepala. Tidak lama ia mengerjakan soal-soal itu, ia pun meninggalkan ruang ujian tanda usai menuntaskan.
Di luar ruangan, ia bersyukur kepada Allah SWT yang telah membantu, menolong dan menuntunnya untuk mudah menghadapi ujian. Teringat ceramah ustadz di radio tadi pagi yang mengatakan, “Ikhlas itu di depan, dan akan mempermudah urusan!” Kini Toyyib sungguh telah merasakannya. Hidup itu seperti ujian, maka bisakah kita ikhlas di depan?!
sumber : alhikmah
Ada seorang sahabat menuturkan kisahnya. Dia bernama Budiman. Sore itu ia menemani istri dan seorang putrinya berbelanja kebutuhan rumah tangga bulanan di sebuah toko swalayan. Usai membayar, tangan-tangan mereka sarat dengan tas plastik belanjaan.
Baru saja mereka keluar dari toko swalayan, istri Budiman dihampiri seorang wanita pengemis yang saat itu bersama seorang putri kecilnya. Wanita pengemis itu berkata kepada istri Budiman, "Beri kami sedekah, Bu!"
Istri Budiman kemudian membuka dompetnya lalu ia menyodorkan selembar uang kertas berjumlah 1000 rupiah. Wanita pengemis itu lalu menerimanya. Tatkala tahu jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan, ia lalu menguncupkan jari-jarinya mengarah ke mulutnya. Kemudian pengemis itu memegang kepala anaknya dan sekali lagi ia mengarahkan jari-jari yang terkuncup itu ke mulutnya, seolah ia ingin berkata, "Aku dan anakku ini sudah berhari-hari tidak makan, tolong beri kami
tambahan sedekah untuk bisa membeli makanan!"
Mendapati isyarat pengemis wanita itu, istri Budiman pun membalas isyarat dengan gerak tangannya seolah berkata, "Tidak... tidak, aku tidak akan menambahkan sedekah untukmu!"
Ironisnya meski tidak menambahkan sedekahnya, istri dan putrinya Budiman malah menuju ke sebuah gerobak gorengan untuk membeli cemilan. Pada kesempatan yang sama Budiman berjalan ke arah ATM center guna mengecek saldo rekeningnya. Saat itu memang tanggal gajian, karenanya Budiman ingin mengecek saldo rekening dia.
Di depan ATM, Ia masukkan kartu ke dalam mesin. Ia tekan langsung tombol INFORMASI SALDO. Sesaat kemudian muncul beberapa digit angka yang membuat Budiman menyunggingkan senyum kecil dari mulutnya. Ya, uang gajiannya sudah masuk ke dalam rekening.
Budiman menarik sejumlah uang dalam bilangan jutaan rupiah dari ATM. Pecahan ratusan ribu berwarna merah kini sudah menyesaki dompetnya. Lalu ada satu lembar uang berwarna merah juga, namun kali ini bernilai 10 ribu yang ia tarik dari dompet. Uang itu Kemudian ia lipat kecil untuk berbagi dengan wanita pengemis yang tadi meminta tambahan sedekah.
Saat sang wanita pengemis melihat nilai uang yang diterima, betapa girangnya dia. Ia pun berucap syukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Budiman dengan kalimat-kalimat penuh kesungguhan: "Alhamdulillah... Alhamdulillah... Alhamdulillah... Terima kasih tuan! Semoga Allah memberikan rezeki berlipat untuk tuan dan keluarga. Semoga Allah memberi kebahagiaan lahir dan batin untuk tuan dan keluarga. Diberikan karunia keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Rumah tangga harmonis dan anak-anak yang shaleh dan shalehah. Semoga tuan dan keluarga juga diberi kedudukan yang terhormat kelak nanti di surga...!"
Budiman tidak menyangka ia akan mendengar respon yang begitu mengharukan. Budiman mengira bahwa pengemis tadi hanya akan berucap terima kasih saja. Namun, apa yang diucapkan oleh wanita pengemis tadi sungguh membuat Budiman terpukau dan membisu. Apalagi tatkala sekali lagi ia dengar wanita itu berkata kepada putri kecilnya, "Dik, Alhamdulillah akhirnya kita bisa makan juga....!"
Deggg...!!! Hati Budiman tergedor dengan begitu kencang. Rupanya wanita tadi sungguh berharap tambahan sedekah agar ia dan putrinya bisa makan. Sejurus kemudian mata Budiman membuntuti kepergian mereka berdua yang berlari menyeberang jalan, lalu masuk ke sebuah warung tegal untuk makan di sana.
Budiman masih terdiam dan terpana di tempat itu. Hingga istri dan putrinya kembali lagi dan keduanya menyapa Budiman. Mata Budiman kini mulai berkaca-kaca dan istrinya pun mengetahui itu. "Ada apa Pak?" Istrinya bertanya.
Dengan suara yang agak berat dan terbata Budiman menjelaskan: "Aku baru saja menambahkan sedekah kepada wanita tadi sebanyak 10 ribu rupiah!"
Awalnya istri Budiman hampir tidak setuju tatkala Budiman mengatakan bahwa ia memberi tambahan sedekah kepada wanita pengemis. Namun Budiman kemudian melanjutkan kalimatnya:
"Bu..., aku memberi sedekah kepadanya sebanyak itu. Saat menerimanya, ia berucap hamdalah berkali-kali seraya bersyukur kepada Allah. Tidak itu saja, ia mendoakan aku, mendoakan dirimu, anak-anak dan keluarga kita. Panjaaaang sekali ia berdoa!
Dia hanya menerima karunia dari Allah Swt sebesar 10 ribu saja sudah sedemikian hebatnya bersyukur.
Padahal aku sebelumnya melihat di ATM saat aku mengecek saldo dan ternyata di sana ada jumlah yang mungkin ratusan bahkan ribuan kali lipat dari 10 ribu rupiah. Saat melihat saldo itu, aku hanya mengangguk-angguk dan tersenyum. Aku terlupa bersyukur, dan aku lupa berucap hamdalah.
Padahal aku sebelumnya melihat di ATM saat aku mengecek saldo dan ternyata di sana ada jumlah yang mungkin ratusan bahkan ribuan kali lipat dari 10 ribu rupiah. Saat melihat saldo itu, aku hanya mengangguk-angguk dan tersenyum. Aku terlupa bersyukur, dan aku lupa berucap hamdalah.
Bu..., aku malu kepada Allah! Dia terima hanya 10 ribu begitu bersyukurnya dia kepada Allah dan berterimakasih kepadaku. Kalau memang demikian, siapakah yang pantas masuk ke dalam surga Allah, apakah dia yang menerima 10 ribu dengan syukur yang luar biasa, ataukah aku yang menerima jumlah lebih banyak dari itu namun sedikitpun aku tak berucap hamdalah."
Budiman mengakhiri kalimatnya dengan suara yang terbata-bata dan beberapa bulir air mata yang menetes. Istrinya pun menjadi lemas setelah menyadari betapa selama ini kurang bersyukur sebagai hamba. Ya Allah, ampunilah kami para hamba-Mu yang kerap lalai atas segala nikmat-Mu!
Sumber : Alhikmah

Menjelang shalat Isya, seorang wartawan duduk kelelahan di halaman sebuah masjid. Perutnya bertalu-talu karena keroncongan. Kepalanya clingak-clinguk mencari tukang jual makanan, tapi tak kunjung menemukannya. Dari wajahnya, tampak gurat-gurat kekecewaan.
Usut punya usut, si Wartawan ini tengah kecewa berat karena gagal bertemu dengan seorang tokoh yang hendak diwawancarai. Betapa tidak kecewa, sejak siang hari dia sudah "mengejar-ngejar" tokoh tersebut. Siang hari, mereka janji bertemu di sebuah kantor.
Beberapa saat sebelum waktu pertemuan itu berlangsung, tokoh penting ini mendadak membatalkan janji, ada acara mendadak katanya. Militansinya sebagai seorang wartawan untuk mendapatkan berita telah membuat pria muda ini mendatangi hotel tempat si Pejabat meeting. Dua jam lamanya, dia menunggu. Namun sial, si Pejabat itu keluar dari pintu samping hotel sehingga tidak sempat bertemu sang Wartawan.
Tidak mau patah arang, dia segera mencari tahu di mana keberadaan pejabat itu. Dia pun mendapatkan informasi bahwa orang yang dicarinya itu sudah pulang ke rumahnya di sebuah kompleks perumahan elite. Tanpa banyak berpikir, sang Wartawan tancap gas. Dengan motornya yang sudah agak butut, dia mendatangi perumahan tersebut. Walau harus tanya sana-tanya sini, akhirnya dia bisa sampai ke rumah si Pejabat.
"Aduh maaf, Mas, Bapaknya barusan pergi lagi. Ada pertemuan lagi katanya. Tapi, Bapak nggak bilang di mananya," kata si penghuni rumah.
Lunglailah kaki si Wartawan. Dia pun pergi. Berkali-kali dia coba mengontak si pejabat, tetapi berkali-kali pula ponselnya tidak diangkat. Sudah terbayang di benaknya kalau nanti malam dia akan ditegur atasannya karena tidak mampu mendapatkan berita. Perutnya yang keroncongan seakan menambah derita.
Saat duduk di masjid itulah, dia melihat seorang kakek yang baru saja menunaikan shalat maghrib. Dipandanginya kakek itu. Tampangnya sangat tidak meyakinkan: tinggi, kurus, jambang putihnya tidak terurus, pakaiannya sangat sederhana dan sudah luntur warnanya, sandal jepitnya pun sudah butut.
Kakek itu menghampiri sebuah tanggungan kayu bakar. Lalu, mengambil topi dan duduk melepas lelah takjauh dari tempat si Wartawan. Kerutan wajahnya yang hitam terbakar matahari seakan tampak makin mengerut karena kelelahan.
"Cep, peryogi suluh henteu? Peserlah suluh anu Bapa, ieu ti enjing-enjing teu acan pajeng!" kata Pak Tua kepada si Wartawan. Maksudnya, dia menawarkan kayu bakar yang dibawanya karena sejak dari pagi tidak laku-laku.
"Punten Bapa, abdi di Bumi teu nganggo suluh (Maaf Bapak, saya di rumah tidak menggunakan kayu bakar)," jawabnya.
"Oh muhun, teu sawios. Mangga atuh, Bapa tipayun, (Oh iya, nggak apa-apa. Kalau begitu permisi, Bapak duluan)," ujar Pak Tua penjual kayu bakar itu.
Sebelum Pak Tua itu pergi, si Wartawan segera mengambil dompet. Dilihatnya hanya ada uang sepuluh ribu, satu-satunya, plus beberapa keping uang receh. Itulah hartanya yang tersisa pada hari itu untuk makan dan membeli bensin. Namun, semua itu dia abaikan. Dia berikan uang sepuluh ribu itu kepada Pak Tua. Walau awalnya menolak, tapi akhirnya dia menerimanya pula.
Sambil menahan tangis haru, Pak Tua berkata, "Hatur nuhun Kasep, tos nulungan Bapak. Mugi-mugi Gusti Alloh ngagentosan kunu langkung ageung (Terima kasih, Cakep, sudah menolong Bapak, semoga Gusti Allah menggantinya dengan yang lebih besar)." Ternyata, Bapak ini sejak pagi belum makan dan tidak punya uang untuk pulang.
Selembar sepuluh ribu telah mengubah segalanya. Dia te-lah sudi memasukkan rasa bahagia kepada saudaranya yang tengah kesusahan, Allah Swt. pun langsung membalasnya dengan memasukkan rasa bahagia yang berlipat-lipat ke dalam hatinya.
Rasa lapar, penat, dan hati dongkol yang sebelumnya mendominasi dirinya langsung hilang sirna berganti kelapangan dan kebahagiaan. Uang sepuluh ribu itu benar-benar memberikan kepuasan yang sensasinya sulit terlupakan. Dia tidak bisa berkata apa-apa selain dari tetesan air mata bahagia. "Terima kasih, ya Allah, engkau telah memberiku rezeki sehingga bisa berbagi," gumamnya.
Tak lama kemudian, datanglah karunia yang kedua. Ponselnya tiba-tiba berbunyi, dilihatnya sebuah pesan dari atasannya kalau dia tidak perlu lagi mengejar si Pejabat karena ada narasumber lain yang lebih kompeten yang siap diwawancara seorang rekannya. Dia hanya memberi penugasan untuk meliput sebuah acara syukuran di salah satu hotel berbintang.
Karunia Allah yang ketiga pun segera datang. Di sela-sela acara liputan di hotel itu, sang Wartawan dipersilakan oleh panitia untuk menikmati hidangan mewah yang tersedia sepuasnya. Menjelang pulang, dia mendapatkan sebuah doorprize dan beberapa buah bingkisan sebagai ucapan terima kasih dari pihak penyelenggara. "Malam yang indah ...," ujarnya.
Walau balasan untuk kebaikan dan kejahatan itu dijanjikan Tuhan pada hari kebangkitan, tetap saja muncul suatu keadaan yang mewakili balasan itu. Apabila manusia bergembira di dalam hatinya, itu adalah balasan karena telah membuat orang lain bahagia.
Apabila sedih, itulah balasan karena telah membuat orang lain sedih.
Terdapat suatu bentuk balasan sebagai pemisah hari kebangkitan. (Jalaluddin Rumi)
sumber : ceritainspirasimuslim
Selasa, 21 Agustus 2012
Kisah ini diceritakan oleh Priyanka Kher, seorang wanita berdarah India yang besar di Selandia Baru dan saat ini tinggal di Amerika Serikat. Priyanka adalah kontributor pada beberapa media di internet, dan kali ini adalah tulisannya untuk matadornetwork.com.
Bandara John F. Kennedy, jam 1.00 Dini hari...
Wajahnya terlihat ramah, dan hal itulah yang membuat saya berani mendekatinya.
"Permisi, apakah kamu mau membantu mengawasi tas saya sebentar sementara saya pergi ke toilet?" tanya saya dengan sopan.
"Baiklah," jawabnya dengan senyum lebar.
Saat itu jam 1.00 dini hari di Terminal 4 Bandara John F. Kennedy, di tempat gerai makanan. Di waktu seperti ini sangat sedikit orang yang ada. Hanya terlihat sekelompok anak muda, tiga pemuda dan dua gadis remaja berbicara dengan bahasa yang saya tidak mengerti. Di sudut lain, lelaki paruh baya sibuk berbicara di telepon genggamnya. Terlihat juga sepasang calon penumpang sedang tidur di bangku panjang.
Saya melihat sekeliling. Saya bersama Tanvi, buah hati saya yang baru berusia 4 tahun. Oh, saya sangat khawatir, Tanvi masih terlalu kecil untuk bisa memegang tasnya sendiri. Sementara saya ingin ke kamar kecil. Kami harus bergegas. Tas kami tinggalkan dalam pengawasan gadis muda yang duduk kira-kira berjarak dua meja dari tempat kami duduk. Ia asik memerhatikan lembaran kertas di depannya.
Setelah kembali dari kamar kecil, saya berpikir sejenak sebelum akhirnya memberanikan diri menghampiri gadis muda tersebut.
"Saya tidak meminumnya, lho," canda gadis muda tersebut saat saya memegang cangkir kopi yang ada di meja saya.
"Wow, terima kasih!" Jawab saya. Kami berdua lalu tertawa. Ah, hal ini telah mencairkan suasana yang sebelumnya terasa kaku.
"Mengapa kamu tidak ikut duduk di sini dengan saya?" tanyanya.
Saya pun akhirnya duduk bersamanya.
Ia berasal dari Arab Saudi -- seperti yang ia bilang kemudian. Tepatnya dari Jeddah. Saat ini sedang kuliah kedokteran di Karibia.
Saya tahu ia seorang muslim karena mengenakan hijab. Ia sedang menunggu penerbangan menuju Jenewa, tempat konferensi kesehatan berlangsung jam 7 malam esok.
"Jadi kamu akan menunggu di sini sampai tiba jadwal penerbanganmu?"
"Ya, saya sering berpergian, jadi sudah terbiasa begadang seperti ini," sahutnya. Matanya membaca sejuta pertanyaan dalam benak saya.
Keluarganya ada di kampung halaman. Ia tinggal sendirian selama lima tahun belakangan ini.
Saya mencoba mencerna ceritanya sambil bertanya-tanya dalam hati. Gadis ini, seorang gadis muslim yang masih muda. Lahir dan berasal dari negara Islam, lalu meninggalkan rumah di usia 18 tahun untuk kuliah, tinggal sendiri, jauh dari rumah. Ia bahkan berkelana sendirian dan ada di bandara tengah malam seperti ini?
"Apakah semua itu tak ada masalah?" tanya saya penuh penasaran.
"Maksudnya?" Ia seolah tak mengerti.
"Kamu tahulah, semua yang kamu lakukan ini. Sepanjang yang saya tahu, wanita di negaramu dilarang melakukan hal ini, memiliki kebebasan seperti ini. Jadi saya penasaran apakah hal ini bukan sesuatu yang.... dilarang," sergah saya.
Ia terdiam beberapa saat. Oh, saya merasa pertanyaan saya terlau jauh menyasar ke hal-hal pribadi.
"Bagaimana yang kamu tahu?" tanyanya dengan serius.
Sekonyong-konyong saya merasa sakit dan bodoh. Sejujurnya, saya sama sekali tidak tahu apa-apa. Saya ternyata tidak tahu tentang wanita muslim kecuali dari apa yang saya baca selama ini.
Saya tak pernah pergi ke negara muslim. Tidak juga punya teman seorang muslim sebelumnya. Jadi, yang saya dengar hanyalah pandangan stereotip tentang islam.
"Well, hal itu yang selama ini kami dengar," saya menjawabnya, walau kemudian saya menyadari jawaban ini terdengar bodoh.
"Jangan percaya segala hal yang kamu dengar," jawabnya. "Reputasi negara saya dan pandangan terhadap agama saya soal perempuan adalah menyesatkan. Tetapi selalu ada dua sisi untuk setiap koin. Saya ini tak bedanya dengan wanita lain."
Ia kemudian tersenyum, "Tapi tak apa-apa, kamu bukan orang pertama yang menanyakan hal ini."
"Bagaimana dengan menggunakan hijab, apakah itu pilihan kamu juga?"
"Ya, tentu saja," sahutnya kemudian.
"Bukankah itu semakin mengkategorikanmu seperti gambaran yang ada, terutama kalau kamu ingin mematahkan semua pandangan negatif orang selama ini. Kamu ingin menunjukkan era baru wanita Arab yang progresif dan modern, tapi dengan menggunakan hijab berarti tidak bisa mematahkan belenggu sepenuhnya."
Ia tertawa keras.
"Kamu tahu, nggak," ia mulai menjelaskan, "Saya tidak punya misi untuk mengubah apa pun. Saya begini apa adanya. Isi kepala saya memang liberal, tapi saya tetap berakar pada budaya saya. Dua faktor ini saling mengisi dalam hidup saya, melekat pada diri saya. Mengapa saya harus melepaskan yang satu karena hal lain? "
Saat ini saya yang terdiam.
Kami kemudian berbincang-bincang banyak hal. Ia menunjukkan foto keluarga dari laptopnya. Rupanya ia gadis sulung dari tiga bersaudara. Adik perempuan dan lelakinya tinggal di kampung halaman. Kedua orang tuanya dokter, dan wajahnya terlihat ramah sekali. Ia begitu bahagia menceritakan keluarganya.
Saatnya saya harus pergi. Penerbangan saya dan Tanvi pulang ke Kansas pukul 6.00 pagi. Saya melihat ke luar jendela sementara Tanvi tertidur di kereta dorong menuju bis yang membawa kami ke Terminal 7.
Di tangan saya ada secarik kertas yang ia tulis. Saya masih sempat membacanya kembali sekilas.
"Niloferr Khan Habibullah," begitulah ia menyebut namanya sambil tersenyum... sebelum kami berpisah.
Sumber:
matadornetwork
Ilustrasi/Meyda-Sefira/Google
Bandara John F. Kennedy, jam 1.00 Dini hari...
Wajahnya terlihat ramah, dan hal itulah yang membuat saya berani mendekatinya.
"Permisi, apakah kamu mau membantu mengawasi tas saya sebentar sementara saya pergi ke toilet?" tanya saya dengan sopan.
"Baiklah," jawabnya dengan senyum lebar.
Saat itu jam 1.00 dini hari di Terminal 4 Bandara John F. Kennedy, di tempat gerai makanan. Di waktu seperti ini sangat sedikit orang yang ada. Hanya terlihat sekelompok anak muda, tiga pemuda dan dua gadis remaja berbicara dengan bahasa yang saya tidak mengerti. Di sudut lain, lelaki paruh baya sibuk berbicara di telepon genggamnya. Terlihat juga sepasang calon penumpang sedang tidur di bangku panjang.
Saya melihat sekeliling. Saya bersama Tanvi, buah hati saya yang baru berusia 4 tahun. Oh, saya sangat khawatir, Tanvi masih terlalu kecil untuk bisa memegang tasnya sendiri. Sementara saya ingin ke kamar kecil. Kami harus bergegas. Tas kami tinggalkan dalam pengawasan gadis muda yang duduk kira-kira berjarak dua meja dari tempat kami duduk. Ia asik memerhatikan lembaran kertas di depannya.
Setelah kembali dari kamar kecil, saya berpikir sejenak sebelum akhirnya memberanikan diri menghampiri gadis muda tersebut.
"Saya tidak meminumnya, lho," canda gadis muda tersebut saat saya memegang cangkir kopi yang ada di meja saya.
"Wow, terima kasih!" Jawab saya. Kami berdua lalu tertawa. Ah, hal ini telah mencairkan suasana yang sebelumnya terasa kaku.
"Mengapa kamu tidak ikut duduk di sini dengan saya?" tanyanya.
Saya pun akhirnya duduk bersamanya.
Ia berasal dari Arab Saudi -- seperti yang ia bilang kemudian. Tepatnya dari Jeddah. Saat ini sedang kuliah kedokteran di Karibia.
Saya tahu ia seorang muslim karena mengenakan hijab. Ia sedang menunggu penerbangan menuju Jenewa, tempat konferensi kesehatan berlangsung jam 7 malam esok.
"Jadi kamu akan menunggu di sini sampai tiba jadwal penerbanganmu?"
"Ya, saya sering berpergian, jadi sudah terbiasa begadang seperti ini," sahutnya. Matanya membaca sejuta pertanyaan dalam benak saya.
Keluarganya ada di kampung halaman. Ia tinggal sendirian selama lima tahun belakangan ini.
Saya mencoba mencerna ceritanya sambil bertanya-tanya dalam hati. Gadis ini, seorang gadis muslim yang masih muda. Lahir dan berasal dari negara Islam, lalu meninggalkan rumah di usia 18 tahun untuk kuliah, tinggal sendiri, jauh dari rumah. Ia bahkan berkelana sendirian dan ada di bandara tengah malam seperti ini?
"Apakah semua itu tak ada masalah?" tanya saya penuh penasaran.
"Maksudnya?" Ia seolah tak mengerti.
"Kamu tahulah, semua yang kamu lakukan ini. Sepanjang yang saya tahu, wanita di negaramu dilarang melakukan hal ini, memiliki kebebasan seperti ini. Jadi saya penasaran apakah hal ini bukan sesuatu yang.... dilarang," sergah saya.
Ia terdiam beberapa saat. Oh, saya merasa pertanyaan saya terlau jauh menyasar ke hal-hal pribadi.
"Bagaimana yang kamu tahu?" tanyanya dengan serius.
Sekonyong-konyong saya merasa sakit dan bodoh. Sejujurnya, saya sama sekali tidak tahu apa-apa. Saya ternyata tidak tahu tentang wanita muslim kecuali dari apa yang saya baca selama ini.
Saya tak pernah pergi ke negara muslim. Tidak juga punya teman seorang muslim sebelumnya. Jadi, yang saya dengar hanyalah pandangan stereotip tentang islam.
"Well, hal itu yang selama ini kami dengar," saya menjawabnya, walau kemudian saya menyadari jawaban ini terdengar bodoh.
"Jangan percaya segala hal yang kamu dengar," jawabnya. "Reputasi negara saya dan pandangan terhadap agama saya soal perempuan adalah menyesatkan. Tetapi selalu ada dua sisi untuk setiap koin. Saya ini tak bedanya dengan wanita lain."
Ia kemudian tersenyum, "Tapi tak apa-apa, kamu bukan orang pertama yang menanyakan hal ini."
"Bagaimana dengan menggunakan hijab, apakah itu pilihan kamu juga?"
"Ya, tentu saja," sahutnya kemudian.
"Bukankah itu semakin mengkategorikanmu seperti gambaran yang ada, terutama kalau kamu ingin mematahkan semua pandangan negatif orang selama ini. Kamu ingin menunjukkan era baru wanita Arab yang progresif dan modern, tapi dengan menggunakan hijab berarti tidak bisa mematahkan belenggu sepenuhnya."
Ia tertawa keras.
"Kamu tahu, nggak," ia mulai menjelaskan, "Saya tidak punya misi untuk mengubah apa pun. Saya begini apa adanya. Isi kepala saya memang liberal, tapi saya tetap berakar pada budaya saya. Dua faktor ini saling mengisi dalam hidup saya, melekat pada diri saya. Mengapa saya harus melepaskan yang satu karena hal lain? "
Saat ini saya yang terdiam.
Kami kemudian berbincang-bincang banyak hal. Ia menunjukkan foto keluarga dari laptopnya. Rupanya ia gadis sulung dari tiga bersaudara. Adik perempuan dan lelakinya tinggal di kampung halaman. Kedua orang tuanya dokter, dan wajahnya terlihat ramah sekali. Ia begitu bahagia menceritakan keluarganya.
Saatnya saya harus pergi. Penerbangan saya dan Tanvi pulang ke Kansas pukul 6.00 pagi. Saya melihat ke luar jendela sementara Tanvi tertidur di kereta dorong menuju bis yang membawa kami ke Terminal 7.
Di tangan saya ada secarik kertas yang ia tulis. Saya masih sempat membacanya kembali sekilas.
"Niloferr Khan Habibullah," begitulah ia menyebut namanya sambil tersenyum... sebelum kami berpisah.
Sumber:
matadornetwork

Tuhan memberiku sebuah tugas, yaitu membawa siput jalan-jalan. Aku tak dapat berjalan terlalu cepat, walaupun siput sudah berusaha keras merangkak. Setiap kali hanya beralih sedemikian sedikit.
Aku mendesak, menghardik, memarahinya, siput memandangku dengan pandangan meminta-maaf, serasa berkata, "Aku sudah berusaha dengan segenap tenaga!"
Aku menariknya, menyeret, bahkan menendangnya, siput terluka. Ia mengucurkan keringat, nafas tersengal-sengal, merangkak ke depan.
Sungguh aneh, mengapa Tuhan memintaku mengajak seekor siput berjalan-jalan. Ya Tuhan, mengapa? Langit sunyi-senyap. Biarkan saja siput merangkak di depan, aku kesal di belakang. Pelankan langkah, tenangkan hati ...
Oh! Tiba-tiba tercium aroma bunga, ternyata ini adalah sebuah taman bunga.
Aku rasakan hembusan sepoi angin, ternyata angin malam demikian lembut.
Ada lagi! Aku dengar suara kicau burung, suara dengung kumbang.
Aku lihat langit penuh bintang cemerlang.
Oh! Mengapa dulu tidak kurasakan semua ini?
Barulah aku teringat, mungkin aku telah salah menduga!
Ternyata Tuhan meminta siput menuntunku jalan-jalan sehingga aku dapat mamahami dan merasakan keindahan taman ini yang tak pernah kualami jika aku berjalan sendiri dengan cepatnya.
"He's here and with me for a reason"
Saat bertemu dengan orang yang benar-benar engkau kasihi,
Haruslah berusaha memperoleh kesempatan untuk bersamanya seumur hidupmu.
Karena ketika dia telah pergi, segalanya telah terlambat.
Saat bertemu teman yang dapat dipercaya, rukunlah bersamanya.
Karena seumur hidup manusia, teman sejati tak mudah ditemukan.
Saat bertemu penolongmu,
Ingat untuk bersyukur padanya.
Karena ialah yang mengubah hidupmu
Saat bertemu orang yang pernah kau cintai,
Ingatlah dengan tersenyum untuk berterima kasih.
Karena ia lah orang yang membuatmu lebih mengerti tentang kasih.
Saat bertemu orang yang pernah kau benci,
Sapalah dengan tersenyum.
Karena ia membuatmu semakin teguh dan kuat.
Saat bertemu orang yang pernah mengkhianatimu,
Baik-baiklah, berbincanglah dengannya.
Karena jika bukan karena dia, hari ini engkau tak memahami dunia ini.
Saat bertemu orang yang pernah diam-diam kau cintai, Berkatilah dia.
Karena saat kau mencintainya, bukankah berharap ia bahagia?
Saat bertemu orang yang tergesa-gesa meninggalkanmu,
Berterima-kasihlah bahwa ia pernah ada dalam hidupmu.
Karena ia adalah bagian dari nostalgiamu
Saat bertemu orang yang pernah salah-paham padamu,
Gunakan saat tersebut untuk menjelaskannaya.
Karena engkau mungkin hanya punya satu kesempatan itu saja untuk menjelaskan.
Saat bertemu orang yang saat ini menemanimu seumur hidup,
Berterima-kasihlah sepenuhnya bahwa ia mencintaimu.
Karena saat ini kalian mendapatkan kebahagiaan dan cinta sejati . . .
Sumber :
ellyxmas.blogspot.com
Rabu, 15 Agustus 2012
Andai kita tahu ini Ramadhan terakhir..
masih ada kesempatan untuk melaksanakan sholat di awal waktu
sholat yang dikerjakan.. .sungguh khusyuk lagi tawadhu'
tubuh dan qalbu...bersatu memperhamba diri
menghadap Rabbul Jalil... menangisi kecurangan janji
"innasolati wanusuki wamahyaya wamamati lillahirabbil 'alamin"
[sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku, dan matiku...]
andai kita tahu ini Ramadhan terakhir.. ..
tidak akan kita sia siakan walau sesaat yang berlalu
setiap masa tak akan dibiarkan begitu saja
di setiap kesempatan juga masa yang terluang
alunan Al-Quran senantiasa kita bacakan dan perdengarkan kehadapan MU ...ya Rabb
andai kita tahu ini Ramadhan terakhir..
setiap malam kita sibukkan dengan
bertarawih.. .berqiamullail. ..bertahajjud. ..
mengadu...merintih. ..meminta belas kasih
"sesungguhnya aku berharap untuk ke syurga-MU
dan....aku tak sanggup untuk ke neraka-MU"
andai kita tahu ini Ramadhan terakhir..
kita akan selalu bersama dengan mereka yang tersayang
kita isi Ramadhan dengan hal yang bermanfaat
kita buru...kita cari..suatu malam idaman
yang lebih baik dari seribu bulan
andai kita tahu ini Ramadhan terakhir..
kita bakal menyediakan batin dan zahir
mempersiapkan diri...rohani dan jasmani
menanti-nanti jemputan Izrail
di kiri dan kanan ...lorong-lorong ridha Ar-Rahman
Duhai Ilahi...
andai ini Ramadhan terakhir buat kami
jadikanlah Ramadhan ini paling berarti...paling berseri...
menerangi kegelapan hati kami
menyeru ke jalan menuju ridho serta kasih sayangMu ...Ya Ilahi
yang bakal mewarnai kehidupan kami di sana nanti
Namun teman....
tak akan ada manusia yang bakal mengetahui
apakah Ramadhan ini merupakan yang terakhir kali bagi diri kita
yang mampu bagi seorang hamba itu hanyalah
berusaha...bersiap-siap ...bersedia ...meminta belas-NYA
Marhaban ya Ramadhan,
Bulan dimana nafas kita menjadi tasbih, tidur kita menjadi ibadah, amal kita diterima dan do'a kita di ijabah,
Sebelum cahaya surga padam, Sebelum hidup berakhir,
Sebelum pintu tobat tertutup, Sebelum Ramadhan datang,
dan untuk menambah khusyu-nya ibadah dibulan yang suci - yang penuh dengan berkah serta ampunan ini, saya pribadi ingin menghaturkan PERMOHONAN MAAF lahir dan bathin,
Semoga kita semua senantiasa berada dalam Rahmat dan Hidayah ALLAH SWT serta selalu sehat dalam melaksanakan ibadah Ramadhan.
Taqqobalahu Minna Waminkum, Taqoballahu Ya Karim,
sumber : kumpulanceritamotivasi
Langganan:
Postingan
(Atom)
